Peristiwa Keraton Pleret  16 April, 11 Mei dan 9 Juni  1826

15 Juni 2026
Eko Sapto
Dibaca 65 Kali

* Pendahuluan: 
1. Demang Pajang diangkat menjadi komandan Korps Jayengan yang terdiri dari 90 prajurit berkuda dengan gelar Ali Basah Kertopengalasan dan bermarkas di wilayah Kulonprogo Selatan.
2. Kemudian mendapat perintah menguasai Pleret dan bermarkas di bekas Benteng Keraton Amangkurat (1645-1677).
3. Benteng Pleret menjadi markas induk pasukan Diponegoro di bawah pimpinan Ali Basah Kertopengalasan dengan tujuan untuk menyerang Imogiri.
4. De Cock curiga, Benteng Pleret dijadikan pusat pemerintahan Pangeran Diponegoro. 

* Sumber:
1. Babad Diponegoro pupuh XXV Pangkur.
2. Het Legion Van Mangkunegara, Letnan Kolonel Aukes.

* Benteng
1. Luas Keraton Pleret 3 Paal atau 4,5 km.
2. Bentuk Benteng persegi empat.
3. Tinggi tembok Benteng sekitar 20-22 kaki atau 7 meter. 
4. Dari gerbang Benteng sisi utara terdapat bangunan tembok segi empat yang kedua atau di dalam Benteng utama. 
5. Terdapat gang atau labirin melalui jalan silang ke arah barat dan selatan. 
6. Labirin tersebut melewati jalan gang sempit menuju arah selatan atau pintu keluar menuju bagian dalam Keraton.

* 16 April 1826:
Jenderal Van Geen memimpin 790 pasukan dari Yogyakarta untuk mengambil uang dari Wonokromo dengan tujuan Imogiri dan terjadi pertempuran di Pleret. 

* Hasil:
1. Pasukan musuh yang keluar dari pintu selatan Benteng (Pungkuran) menuju Kali Opak berhasil dikejar pasukan Kavaleri Belanda, mereka ditebas pedang hingga jatuh. 
2. Pasukan Belanda merampas sekawanan ternak sapi, satu set gamelan dan 30 ekor kuda yang diberi aksesoris warna warni untuk menunjukan tingkat jabatan si pemilik kudanya.

Van Geen tidak menduduki Benteng Pleret, melanjutkan perjalanan menuju Imogiri. Pasukan ini dihadang pasukan Diponegoro yang dipimpin sejumlah Haji yang fanatik, tercatat 2 Haji tertembak mati dan 2 terluka. 
Mereka bertahan di sebuah Masjid. 

* 11 Mei 1826:
Terdengar berita bahwa pasukan Diponegoro berhasil mengumpulkan 1.000 orang kombatan baru dan melatihnya setiap hari. 
Benteng Keraton Pleret dijadikan markas induk untuk menyerang Imogiri tanggal 29 Mei 1826. 

27 hari pasca peristiwa 16 April 1826, Kolonel Cochius memimpin pasukan gabungan dari Keraton Yogyakarta dan Mangkunegara menuju Imogiri. Terjadi pertempuran di Pleret dan Imogiri, pasukan Cochius mundur ke Yogyakarta karena kehabisan amunisi. 

* 9 Juni 1826:
28 hari kemudian Kolonel Cochius memipin pasukan gabungan, dibagi menjadi dua.

Kekuatan Pasukan:
Belanda:
1. Versi Saleh A'sad Jamhari: 7.342 orang. 
2. versi Peter Carey: 3.420 orang.

Basah Kertopengalasan:
1. Versi Adipati Ario Joyodiningrat: 700 orang.

Strategi Belanda:
1. Pasukan Kavaleri di sisi barat melindungi pasuksn Mayor Le Bron de Vexella. 
2. Mayor Le Bron de Vexella memimpin Batalion Mobile 3 menyerang sisi barat Benteng dengan puluhan tangga dan membawa 2 gentong berisi masing-masing 40 kg bubuk mesiu. 
2. Mayor Elout memimpin pasukan gabungan dan Korps medis dengan mengambil posisi di desa-desa sebelah utara Benteng, yaitu Tambalan dan Trajeman.
3. Adipati Ario Mangkunegara II memimpin Legiun Mangkunegaran di sisi sebelah timur dan selatan Benteng dengan membawa tangga. 
4. Lekol Gey memimpin pasukan artileri meriam, menembak Benteng Keraton sebelah barat. 
5. Pukul 09.30, Mayor van der Wijck dan pasukan pionir yang dipimpin Lentnan De Fruy mendapat tugas memasang 2 gentong bubuk mesiu (80 kg) di sisi barat tembok Benteng. 

Bubuk mesiu meledak, terdengar sampai Yogyakarta, tembok Benteng bergetar, tetapi tidak tubuh, prajurit penjaga benteng loncat dari anjang-anjang atau panggung bambu. 
Pertempuran frontal dimulai. 

•Pertempuran selesai pukul 15.00, sekitar 40 prajurit Kertopengalasan masih bertahan dan menyerah. 
•Desa-desa di sekitar turut membantu, namun berhasil di halau pasukan Belanda. 

* Hasil:
1. 4 Panji besar. 
2. 3 meriam kecil. 
3. Sejumlah besar keris, senapan dan tombak. 
4. 60 ekor kuda. 

* Benteng Pleret di jaga 700 pasukan Legiun Mangkunegara. 

•Catatan korban tewas dipihak Diponegoro:
1. versi Adipati Ario Joyodiningrat berjumlah 1.300 orang.
2. Versi Letkol Aukes berjumlah 500-700 orang.


* Tambahan:
1. Benteng Bulus di bangun tahun 1829. Menjadi markas Kolonel Cochius.